Aku masih hidup. Beberapa tetangga meninggal dunia, ada yang karena usia lanjut, ada yang karena hal lain, overdosis, kesetrum listrik, ditembak mati, kelindas kereta api saat main layang layang, ada yang jatuh kejungkel tewas, saat motornya melindas polisi tidur, dan ia tak ingat untuk berpegangan pada yang nyetir motor, karena posisinya dibonceng. Ada juga yang mati kebledosan mercon, ada yang mati tabrakan motor kecepatan tinggi, dan lain lain.
Dari sekian kematian disekitar kita, kita saksikan, kita tahu, kita lihat, dan kita doakan agar dialam sesudahnya, dapat kebaikan dari perbuatan baik yang telah dilakukan! Seakan kita tetap hidup untuk menyaksikan semua itu! Kenyataannya, kita hanya menunggu giliran. Entah dengan peristiwa seperti apa. Atau karena sebab yang remeh dan tak terpikirkan? Atau karena peristiwa hebat dan heroik? Atau mati bersama manusia lain dalam suatu bencana hebat? Atau karena hal lain? Kita sebagian besar, tak ingin tahu, bagaimana hal itu kan terjadi. Kita lupakan dengan segala aktifitas kita.
Poor dead! Rich dead! Miskin mati! Kaya pun mati! Biar miskin atau kaya, kematian itu akan datang.
Sebagaimana kita doakan orang orang yang telah mendahului kita dengan doa doa yang baik, akankah seperti itu juga, jika kita tiada kelak, atau malah disambut suka cita gembira? Tanpa belasungkawa dan duka cita? Kita tak akan pernah tahu. Hanya orang orang yang lebih tua dari kita mengajarkan demikian, dan kitapun lakukan dengan tunduk patuh tanpa pertentangan, karena mendoakan orang yang telah tiada dengan doa kebaikan adalah hal yang sepatutnya.
Aku sekarang hidup dijaman ini, sejak tahun 1971 hingga entah kapan. Ini jamanku. Beda jamanku. Beda jaman yang akan datang. Beberapa orang tergilas jaman, dan merasai dalam keadaan masih hidup segar bugar. Akankah perilaku yang kita kerjakan juga akan dikerjakan oleh generasi berikutnya? Yang serba spekulatif, serba cepat, serba ringkas, serba instan, serba berani, kita tak pernah tahu.
0 komentar:
Poskan Komentar